Hubungan kita dengan penciptaan. Manusia adalah bagian dari
penciptaan, karena itu kita memiliki hubungan dengan Sang Pencipta dan
juga dengan ciptaan-ciptaan lainnya. Bagaimana kita memahami
hubungan-hubungan ini akan sangat mempengaruhi sikap dan perilaku kita
terhadap ciptaan-ciptaan Tuhan yang lain itu. Ibaratnya, sikap dan
perilaku kita terhadap saudara-saudara kandung seyogianya berbeda dengan
sikap dan perilaku kita terhadap orang-orang lain yang bukan saudara
atau tidak memiliki hubungan keluarga. Sebagaimana kedekatan kita dengan
keluarga sendiri adalah karena sama-sama berasal dari satu keturunan,
kedekatan kita dengan ciptaan-ciptaan lain adalah karena sama-sama
berasal dari satu Pencipta.
“Bagi sebagian orang ciptaan itu untuk dimanfaatkan, digunakan,
bahkan dijarah sampai ke tingkat manapun demi untuk memenuhi keinginan
dan kemauan kita. Sebaliknya bagi yang lain adalah menyembah ciptaan itu
sendiri (baca Roma 1:25). Lalu ada pandangan alkitabiah yang seharusnya
memberi kita sudut pandang yang berimbang dalam cara di mana kita
berhubungan dengan dunia yang Tuhan ciptakan untuk kita” [alinea kedua].
Belakangan ini banyak bencana alam terjadi yang berkaitan dengan
kerusakan alam akibat ulah manusia. Pemanasan global, penipisan lapisan
ozon, efek rumah kaca, anomali iklim, banjir dan kebakaran hutan adalah
sebagian dari isu-isu yang telah menjadi keprihatinan para pemerhati
lingkungan hidup sejak lama. Selain kerusakan alam, perilaku manusia
juga telah menyebabkan banyak spesis flora dan fauna yang terancam
punah, setidaknya di tingkat lokal. Tidak sedikit jenis buah-buahan
maupun hewan yang sekarang sangat sulit untuk ditemukan, termasuk yang
tergolong endemik (hanya terdapat di daerah tertentu saja). Saya tidak
tahu, berapa banyak anak-anak dan cucu kita sekarang ini yang tidak
pernah mengenal lobi-lobi (di daerah saya disebut tome-tome), buah
berbentuk kelereng besar yang rasanya manis-kecut? Atau melihat burung
gagak berbulu hitam pekat dengan paruh yang kukuh, jenis burung yang
berperan dalam kisah nabi Nuh (Kej. 8:7) dan nabi Elia (1Raj. 17:6) itu?
Di Amerika, burung-burung gagak masih bisa dijumpai mencari makan di
pinggir jalan, suasana yang pernah saya alami pada masa kanak-kanak di
kampung halaman lebih dari enampuluh tahun lalu. Entahlah kini.
Sabat, hari perayaan penciptaan. Seperti pernah kita bahas terdahulu,
kalau manusia dapat kita sebut sebagai “pangeran penciptaan” maka Sabat
hari yang ketujuh dalam pekan adalah “mahkota penciptaan.”
Istilah-istilah ini menjadi lebih bermakna terutama bila kita mengingat
perkataan Yesus, “Hari Sabat diadakan untuk manusia…” (Mrk. 2:27). Hari
Sabat yang diadakan oleh Sang Pencipta di penghujung minggu penciptaan
adalah karunia tersendiri bagi manusia, satu hari untuk dinikmati dengan
cara berhenti dari segala aktivitas dan rutinitas sehari-hari. “Ketika
Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya
itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah
dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan
menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala
pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu” (Kej. 2:2-3; huruf
miring ditambahkan).
Pencantuman hukum Sabat hari yang ketujuh dalam Sepuluh Perintah
(Hukum Keempat) adalah penegasan kembali akan pentingnya kedudukan hari
Sabat dalam penciptaan, di mana manusia harus meniru apa yang Allah
lakukan pada hari itu, yakni berhenti, memberkati, dan menguduskan.
Dalam Sepuluh Perintah itu sangat jelas disebutkan alasan Allah
memerintahkan manusia untuk berhenti “melakukan segala pekerjaan” (Kel.
20:9). “Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut
dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya
TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya” (ay. 11; huruf miring
ditambahkan). Perhatikan tiga hal yang disebutkan dalam kitab Kejadian
diulangi kembali dalam kitab Keluaran.
“Oleh mengarahkan kita kepada fakta bahwa Allah menciptakan kita dan
dunia yang kita tempati ini, hari Sabat merupakan pengingat yang
terus-menerus bahwa kita bukanlah ciptaan yang sepenuhnya otonom yang
bisa berbuat apa saja yang diinginkan terhadap orang lain dan kepada
dunia itu sendiri. Sabat seharusnya mengajarkan kita bahwa kita
sesungguhnya adalah penatalayan-penatalayan, dan bahwa penatalayanan
menuntut tanggungjawab” [alinea terakhir: dua kalimat pertama].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar