Minggu, 04 Desember 2016

• Menyebutkan dan menunjukkan sikap menyayangi binatang peliharaan melalui bercerita tentang hewan

Hubungan kita dengan penciptaan. Manusia adalah bagian dari penciptaan, karena itu kita memiliki hubungan dengan Sang Pencipta dan juga dengan ciptaan-ciptaan lainnya. Bagaimana kita memahami hubungan-hubungan ini akan sangat mempengaruhi sikap dan perilaku kita terhadap ciptaan-ciptaan Tuhan yang lain itu. Ibaratnya, sikap dan perilaku kita terhadap saudara-saudara kandung seyogianya berbeda dengan sikap dan perilaku kita terhadap orang-orang lain yang bukan saudara atau tidak memiliki hubungan keluarga. Sebagaimana kedekatan kita dengan keluarga sendiri adalah karena sama-sama berasal dari satu keturunan, kedekatan kita dengan ciptaan-ciptaan lain adalah karena sama-sama berasal dari satu Pencipta.
“Bagi sebagian orang ciptaan itu untuk dimanfaatkan, digunakan, bahkan dijarah sampai ke tingkat manapun demi untuk memenuhi keinginan dan kemauan kita. Sebaliknya bagi yang lain adalah menyembah ciptaan itu sendiri (baca Roma 1:25). Lalu ada pandangan alkitabiah yang seharusnya memberi kita sudut pandang yang berimbang dalam cara di mana kita berhubungan dengan dunia yang Tuhan ciptakan untuk kita” [alinea kedua].
Belakangan ini banyak bencana alam terjadi yang berkaitan dengan kerusakan alam akibat ulah manusia. Pemanasan global, penipisan lapisan ozon, efek rumah kaca, anomali iklim, banjir dan kebakaran hutan adalah sebagian dari isu-isu yang telah menjadi keprihatinan para pemerhati lingkungan hidup sejak lama. Selain kerusakan alam, perilaku manusia juga telah menyebabkan banyak spesis flora dan fauna yang terancam punah, setidaknya di tingkat lokal. Tidak sedikit jenis buah-buahan maupun hewan yang sekarang sangat sulit untuk ditemukan, termasuk yang tergolong endemik (hanya terdapat di daerah tertentu saja). Saya tidak tahu, berapa banyak anak-anak dan cucu kita sekarang ini yang tidak pernah mengenal lobi-lobi (di daerah saya disebut tome-tome), buah berbentuk kelereng besar yang rasanya manis-kecut? Atau melihat burung gagak berbulu hitam pekat dengan paruh yang kukuh, jenis burung yang berperan dalam kisah nabi Nuh (Kej. 8:7) dan nabi Elia (1Raj. 17:6) itu? Di Amerika, burung-burung gagak masih bisa dijumpai mencari makan di pinggir jalan, suasana yang pernah saya alami pada masa kanak-kanak di kampung halaman lebih dari enampuluh tahun lalu. Entahlah kini.
Sabat, hari perayaan penciptaan. Seperti pernah kita bahas terdahulu, kalau manusia dapat kita sebut sebagai “pangeran penciptaan” maka Sabat hari yang ketujuh dalam pekan adalah “mahkota penciptaan.” Istilah-istilah ini menjadi lebih bermakna terutama bila kita mengingat perkataan Yesus, “Hari Sabat diadakan untuk manusia…” (Mrk. 2:27). Hari Sabat yang diadakan oleh Sang Pencipta di penghujung minggu penciptaan adalah karunia tersendiri bagi manusia, satu hari untuk dinikmati dengan cara berhenti dari segala aktivitas dan rutinitas sehari-hari. “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu” (Kej. 2:2-3; huruf miring ditambahkan).
Pencantuman hukum Sabat hari yang ketujuh dalam Sepuluh Perintah (Hukum Keempat) adalah penegasan kembali akan pentingnya kedudukan hari Sabat dalam penciptaan, di mana manusia harus meniru apa yang Allah lakukan pada hari itu, yakni berhenti, memberkati, dan menguduskan. Dalam Sepuluh Perintah itu sangat jelas disebutkan alasan Allah memerintahkan manusia untuk berhenti “melakukan segala pekerjaan” (Kel. 20:9). “Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya” (ay. 11; huruf miring ditambahkan). Perhatikan tiga hal yang disebutkan dalam kitab Kejadian diulangi kembali dalam kitab Keluaran.
“Oleh mengarahkan kita kepada fakta bahwa Allah menciptakan kita dan dunia yang kita tempati ini, hari Sabat merupakan pengingat yang terus-menerus bahwa kita bukanlah ciptaan yang sepenuhnya otonom yang bisa berbuat apa saja yang diinginkan terhadap orang lain dan kepada dunia itu sendiri. Sabat seharusnya mengajarkan kita bahwa kita sesungguhnya adalah penatalayan-penatalayan, dan bahwa penatalayanan menuntut tanggungjawab” [alinea terakhir: dua kalimat pertama].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar